(0362) 27719
brida@bulelengkab.go.id
Badan Riset dan Inovasi Daerah

Siapa Wanita Tercantik Menurutmu?

Admin brida | 09 Januari 2025 | 5451 kali

Teringat masa dulu aku kuliah, walau sudah puluhan tahun lebih berlalu namun masih melekat di benak. Disela waktu kuliah ada sahabatku bertanya, siapa wanita tercantik menurutmu? Karakter sahabatku itu orangnya suka humor sedikit, lebih banyak serius, berpikiran kritis dan mendalam selayaknya filsuf sejati. Akupun terpancing untuk menanggapinya secara serius dan enggan menambahkan guyonan pada jawabanku.

 

Sebelum menjawab, pikiranku sudah curiga dan membayangi dengan pertanyaan, apakah sahabatku ini sedang menguji kesetiaanku? Sebab sahabatku tahu saat itu aku sudah punya pacar. Berpacu dari pertanyaan yang membayangiku, aku jawab dengan penuh percaya diri bahwa pertanyaanmu itu ada kaitannya dengan seorang lelaki setia. Ada banyak kriteria seorang lelaki setia, tetapi aku jawab satu saja ya, yang berkaitan langsung dengan pertanyaanmu itu. Ia hanya mengangguk sembari senyum tipis.

 

Jawabanku, kriteria pertama yang paling ringan dan pasti dimiliki oleh seorang lelaki setia, yaitu ia tidak akan pernah memuji wanita lain selain pacarnya. Jika sudah menikah maka hanya istrinyalah wanita tercantik baginya. Tidak ada lagi wanita lain yang dipuji selain pasangannya. Dengan rasa percaya diri yang terus menguatkanku, aku simpulkan. Jadi, karena aku seorang lelaki setia maka sudah tentu wanita tercantik adalah pacarku. Setelah mendengar jawabanku nampaknya ia ingin menanggapi, namun belum kukasih kesempatan.

 

Kutegaskan pula padanya, bahwa bukan tugasku untuk menilai seorang wanita yang sudah punya pasangan terlebih sudah menikah, melainkan tugas dari pasangan atau suami masing-masing. Jika aku menilai seorang wanita yang sudah menikah, itu sama halnya dengan mengambil alih tugas suami orang. Kalau seandainya aku seorang lajang yang belum punya pasangan atau seorang single, maka yang kupuji tentu yang memiliki status sama denganku.

 

Belum selesai berbicara, ia memotongku, mungkin ia bosan karena aku saja yang berbicara. Ia melontarkan satu pertanyaan lagi, berarti yang lajang hanya memuji yang lajang, dan yang single hanya memuji yang single saja? Aku jawab, ya terlepas dari status itu, intinya ketika saat ini sedang sendiri maka pujilah yang sedang sendiri juga. Memuji kan bersifat relatif, tergantung selera, entah ia seorang lajang atau single bolehlah, sambil aku tersenyum dan ia juga akhirnya tersenyum lebih lebar.

 

Sebelum ia bertanya lagi, aku dahului bertanya balik dengan maksud agar ia tidak membantah pandanganku itu. Menurutmu, wanita cantik dengan kriteria bagaimana? Terdiam ia sejenak sebelum menjawab, baik, kalem, lemah lembut, sementara cantik wajah dan fisik bagiku nomor dua. Tiga karakter itulah yang nomor satu, tambahnya. Aku tidak menanggapi, hanya tersenyum dan mengancunginya jempol, karena kriteria cantik menurutku sama dengan jawabannya.

 

Lanjut aku bertanya lagi seperti pertanyaannya padaku, menurutmu, siapa wanita tercantik? Cuma sayangnya waktu itu ia belum punya pacar, dan kutahu itu. Jawabannya singkat, aku ada dipihakmu, sebab pandanganmu masuk dalam logikaku. Sebenarnya aku tidak puas dengan jawabannya, tetapi aku terima. Mungkin karena ia belum punya pacar, mungkin ia bosan berdebat denganku, atau karena ia tahu pertanyaan itu justru berbalik menyudutkannya. Selanjutnya ia bergegas mengajakku ke perpustakaan melihat contoh skripsi.

 

Di balik kisah di atas, aku juga menyadari dalam kesempatan lain, mungkin saja pertanyaan itu akan ditanyakan kembali oleh orang yang berbeda. Bahkan saat aku rindu sahabatku, pernah kukirimi ia pesan singkat bukan menanyakan kabar, melainkan pertanyaan itu. Ketika sudah dibaca, ia tidak membalas dan langsung menelponku. Wah, kamu masih ingat ya dengan itu? Tentulah, semua diskusi yang menginspirasi bersamamu selalu kuingat, jawabku. Ia turut mengatakan kalau sebenarnya ia pun masih mengingatnya, dan menyatakan bahwa wanita tercantik menurutnya hanya istrinya seorang. Kutanya, berarti kamu sah jadi pengikutku sekarang ya? Sambil tertawa ia menjawab, iya. Akupun tertawa lepas karena kutahu saat ini ia sudah punya keluarga kecil yang bahagia.

 

Oleh: I Wayan Widya Dharmayasa