Teringat masa dulu aku kuliah, walau sudah puluhan tahun lebih berlalu namun masih melekat di benak. Disela waktu kuliah ada sahabatku bertanya, siapa wanita tercantik menurutmu? Karakter sahabatku itu orangnya suka humor sedikit, lebih banyak serius, berpikiran kritis dan mendalam selayaknya filsuf sejati. Akupun terpancing untuk menanggapinya secara serius dan enggan menambahkan guyonan pada jawabanku.
Sebelum menjawab, pikiranku sudah curiga dan membayangi dengan
pertanyaan, apakah sahabatku ini sedang menguji kesetiaanku? Sebab sahabatku
tahu saat itu aku sudah punya pacar. Berpacu dari pertanyaan yang membayangiku,
aku jawab dengan penuh percaya diri bahwa pertanyaanmu itu ada kaitannya dengan
seorang lelaki setia. Ada banyak kriteria seorang lelaki setia, tetapi aku
jawab satu saja ya, yang berkaitan langsung dengan pertanyaanmu itu. Ia hanya
mengangguk sembari senyum tipis.
Jawabanku, kriteria pertama yang paling ringan dan pasti dimiliki oleh
seorang lelaki setia, yaitu ia tidak akan pernah memuji wanita lain selain
pacarnya. Jika sudah menikah maka hanya istrinyalah wanita tercantik baginya.
Tidak ada lagi wanita lain yang dipuji selain pasangannya. Dengan rasa percaya
diri yang terus menguatkanku, aku simpulkan. Jadi, karena aku seorang lelaki
setia maka sudah tentu wanita tercantik adalah pacarku. Setelah mendengar
jawabanku nampaknya ia ingin menanggapi, namun belum kukasih kesempatan.
Kutegaskan pula padanya, bahwa bukan tugasku untuk menilai seorang wanita
yang sudah punya pasangan terlebih sudah menikah, melainkan tugas dari pasangan
atau suami masing-masing. Jika aku menilai seorang wanita yang sudah menikah,
itu sama halnya dengan mengambil alih tugas suami orang. Kalau seandainya aku
seorang lajang yang belum punya pasangan atau seorang single, maka yang kupuji
tentu yang memiliki status sama denganku.
Belum selesai berbicara, ia memotongku, mungkin ia bosan karena aku saja
yang berbicara. Ia melontarkan satu pertanyaan lagi, berarti yang lajang hanya
memuji yang lajang, dan yang single hanya memuji yang single saja? Aku jawab,
ya terlepas dari status itu, intinya ketika saat ini sedang sendiri maka
pujilah yang sedang sendiri juga. Memuji kan bersifat relatif, tergantung
selera, entah ia seorang lajang atau single bolehlah, sambil aku tersenyum dan
ia juga akhirnya tersenyum lebih lebar.
Sebelum ia bertanya lagi, aku dahului bertanya balik dengan maksud agar
ia tidak membantah pandanganku itu. Menurutmu, wanita cantik dengan kriteria
bagaimana? Terdiam ia sejenak sebelum menjawab, baik, kalem, lemah lembut,
sementara cantik wajah dan fisik bagiku nomor dua. Tiga karakter itulah yang
nomor satu, tambahnya. Aku tidak menanggapi, hanya tersenyum dan mengancunginya
jempol, karena kriteria cantik menurutku sama dengan jawabannya.
Lanjut aku bertanya lagi seperti pertanyaannya padaku, menurutmu, siapa
wanita tercantik? Cuma sayangnya waktu itu ia belum punya pacar, dan kutahu
itu. Jawabannya singkat, aku ada dipihakmu, sebab pandanganmu masuk dalam
logikaku. Sebenarnya aku tidak puas dengan jawabannya, tetapi aku terima.
Mungkin karena ia belum punya pacar, mungkin ia bosan berdebat denganku, atau
karena ia tahu pertanyaan itu justru berbalik menyudutkannya. Selanjutnya ia
bergegas mengajakku ke perpustakaan melihat contoh skripsi.
Di balik kisah di atas, aku juga menyadari dalam kesempatan lain, mungkin
saja pertanyaan itu akan ditanyakan kembali oleh orang yang berbeda. Bahkan
saat aku rindu sahabatku, pernah kukirimi ia pesan singkat bukan menanyakan
kabar, melainkan pertanyaan itu. Ketika sudah dibaca, ia tidak membalas dan
langsung menelponku. Wah, kamu masih ingat ya dengan itu? Tentulah, semua
diskusi yang menginspirasi bersamamu selalu kuingat, jawabku. Ia turut
mengatakan kalau sebenarnya ia pun masih mengingatnya, dan menyatakan bahwa
wanita tercantik menurutnya hanya istrinya seorang. Kutanya, berarti kamu sah
jadi pengikutku sekarang ya? Sambil tertawa ia menjawab, iya. Akupun tertawa lepas
karena kutahu saat ini ia sudah punya keluarga kecil yang bahagia.
Oleh: I Wayan Widya Dharmayasa