Buleleng - Webinar BRIN Menyapa Brida (BMB) Edisi 8 kali ini, Selasa (19/5) mengangkat tema pemanfaatan koleksi ilmiah sebagai dasar pengembangan solusi daerah berbasis riset dan inovasi. Kegiatan diawali dengan pembukaan dan sambutan dari Dr. Ir. Wiwiek Joelijani, M.T., Direktur Fasilitasi dan Pemantauan Riset dan Inovasi Daerah Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah yang menyampaikan pentingnya pemanfaatan koleksi ilmiah sebagai dasar penyusunan kebijakan dan inovasi daerah.
Selanjutnya narasumber
Dina Safarinanugraha, S.P., M.Si., Ketua Tim Fungsi Pemrosesan Koleksi Ilmiah Direktorat
Pengelolaan Koleksi Ilmiah memaparkan materi mengenai koleksi ilmiah,
pengelolaan dan pemanfaatan koleksi ilmiah, tantangan pengelolaan koleksi
ilmiah serta proyeksi peningkatan pemanfaatan koleksi.
Menurut Dina
Safarinanugraha, koleksi ilmiah adalah objek atau kumpulan objek yang memiliki
nilai ilmu pengetahuan, ekonomi, sosial, dan budaya yang disimpan serta
dikelola secara khusus untuk kepentingan ilmiah dan pendidikan, bukan hanya
sekadar arsip penelitian, tetapi merupakan aset strategis nasional yang dapat
mendukung pembangunan daerah secara berkelanjutan. Melalui Peraturan BRIN dan
Peta Jalan 2025-2029, pengelolaan koleksi ilmiah secara langsung diarahkan
untuk memecahkan masalah strategis melalui empat pilar utama, diantaranya;
Swasembada Pangan, Kemandirian Kesehatan, Swasembada Energi, dan Pembangunan
Berkelanjutan.
Lebih lanjut Dina
memaparkan peran starategis BRIN dalam pengelolaan spesimen nasional,
penyediaan infrastruktur data ilmiah, penyimpanan referensi biodiversitas, serta
penguatan riset regional. Berdasarkan Perbrin Nomor 8 Tahun 2024 tentang Tata
Kelola Koleksi Ilmiah, penggunaan dan pemanfaatan koleksi ilmiah adalah untuk
kegiatan riset (meliputi: data pendukung, bahan perbanyakan, rujukan ilmiah,
validasi kualitas data sert bukti adanya keterkaitan) dan Kegiatan non riset
(meliputi : konservasi ex situ, media pendidikan, media wisata pendidikan,
sumber inspirasi karya, wisata, kegiatan komersial danatau kegiatan non riset
lainnya). Pemanfaatan koleksi ilmiah diharapkan dapat memperkuat pembangunan
daerah yang inovatif, berkelanjutan, dan berbasis kekayaan sumber daya lokal.
Tantangan dalam pengelolaan koleksi ilmiah diantaranyanya keterbatasan sumber daya manusia yang ada, pendanaan yang belum optimal, proses digitalisasi yang belum merata di seluruh lokasi koleksi ilmiah terutama di daerah dan masih rendahnya kolaborasi pengelolaan koleksi ilmiah dengan daerah. Untuk mengatasi tantangan tersebut dibutuhkan komitmen bersama, inovasi dan dukungan berkelanjutan.
Berdasarkan arah
kebijakan 2025-2029 pemanfaatan koleksi ilmiah peningkatan tertinggi
diproyeksikan pada riset terapan bidang pangan dan pertanian, penemuan obat
baru (farmasi), konservasi berbasis genetik dan yang terendah adalah edukasi
dan pameran publik. #Eka