Oleh : Made Roy Astika
Seingat saya, ketika saya kelas II Sekolah Dasar (SD) sekitar umur 7
tahun, saya terakhir sempat menikmati Jaja Bontot dari seorang pedagang yang
berjualan keliling. Bu, beli jaja, panggil saya! Jaja apa ini bu? tanya saya. Jawabnya ibu
setengah baya itu sambil menurunkan dagangannya, “Jaja Bontot”, katanya.
Saya teringat lagi dengan Jaja Bontot ini ketika Perbekel Desa Bengkala
mengatakan suatu hari, bahwa Desa Bengkala memiliki makanan khas yang diberi
nama Jaja Bontot. Sontak ingatan saya kembali ke masa 50 tahun yang lalu. Oo...
ternyata Jaja Bontot ini berasal dari Desa Bengkala. Inilah yang menyebabkan
saya tertarik untuk berkunjung ke Desa Bengkala dan ingin melestarikan makanan
khas masyarakat ini untuk didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual kategori
Pengetahuan Tradisional.
Suatu hari saya bersama Adi Suradnya menyambangi Desa Bengkala bertepatan
dengan masyarakatnya yang sedang ngayah persiapan Piodalan Rahinan Purnama di salah satu Merajan di Desa Bengkala.
Kami masuk kesalah satu rumah milik Made Kariani. Begitu masuk, sudah
banyak warga terutama krama istri (ibu-ibu)
yang sudah ngayah sedang membuat Jaja
Bontot. Kami berdua diantar staf Desa Bengkala dan disambut dengan sangat ramah
oleh warga masyarakat.
Nah, mulailah saya mengambil gambar dan wawancara dengan Made Kariani
seputar keberadaan Jaja Bontot, karena memang persyaratan untuk didaftarkan
sebagai Kekayaan Intelektual harus dilengkapi dengan video cara pembuatannya,
dan foto bahan-bahan yang diperlukan.
Menurut Made Kariani, Jaja Bontot merupakan jajanan khas Desa Bengkala
yang telah ada secara turun temurun. Jajanan ini kalau dilihat dari filosofinya
merupakan jajan khusus yang dibuat dan digunakan sebagai sarana upacara saat
menyongsong Piodalan atau upacara adat
lainnya seperti perkawinan, tiga bulanan, dan lain sebagainya.
Pembuatan Jaja Bontot tergolong sangat sederhana, hanya memerlukan bahan seperti beras ketan, parutan kelapa, dan gula merah. Kariani menjelaskan dengan gamblang, mulai dari pemilihan ketan yang berkualitas, kemudian dibersihkan dan direndam hampir 1 jam. Setelah direndam, beras ketan kemudian dikukus dengan wadah yang masih tradisional berupa dangdang sekitar 30 menit. Setelah 30 menit, beras ketan yang sudah masak dicampur dengan parutan kelapa, kemudian ditumbuk sampai halus dan legit.
Setelah bercampur dan mendapatkan
adonan legit, kemudian beras ketan dibentuk bulat-bulat (seperti bontit), dan didalamnya diiisi
irisan gula aren atau gula merah. Jaja Bontot selanjutnya dibungkus dengan
kulit jagung dan siap dinikmati.
Seiring dengan perkembangan, selain khusus dibuat untuk aturan, saat ini banyak masyarakat yang membuat jaja ini untuk menjadi tambahan ekonomi masyarakat. Jaja Bontot dengan cita rasa gurih dan enak, sangat cocok kalau dipadukan dengan seruputan kopi pahit dengan rasa yang berbeda, sehingga tidak cukup menikmati hanya satu atau dua buah saja.
Jaja
Bontot sebagai Pengetahuan Tradisional Desa Bengkala akan didaftarkan sebagai Kekayaan
Intelektual desa setempat atas kreasi dan inovasi yang dilakukan masyarakatnya.