Pemenuhan indeks kepuasan masyarakat terhadap kinerja Pemerintah Kabupaten Buleleng sesuai dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 14 Tahun 2017 tentang Pedomanan Penyusunan Survei Kepuasan Masyarakat dan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 38 Tahun 2020 tentang Indek Kepemimpinan Kepala Daerah akan diukur berdasarkan 10 (sepuluh aspek), yaitu: (1) Kesehatan, (2) Pendidikan, (3) Ekonomi, (4) Fasilitas Publik, (5) Kepemimpinan Sosial, (6) Permasalahan Daerah, (7) Prioritas Pembangunan Infrastruktur, (8) Media Hebit Masyarakat Buleleng, (9) Hukum, dan (10) Sosial, Adat dan Budaya.
Berdasarkan hasil focus group discussion pada masing-masing kecamatan terungkap
beberapa peramasalahan bertalian dengan layanan kesehatan;
1. Penggunaan
kartu Indonesia sehat masih sering mengalami keterlambatan pelayanan. Program
Kartu Indonesia Sehat (KIS) merupakan instrument jaminan kesehatan nasional
yang bertujuan memastikan seluruh masyarakat, khususnya kelompok rentan dan tidak
mampu, memperoleh pelayanan kesehatan yang cepat, tepat, dan tanpa diskriminasi;
2. Prilaku
pelaksana pelayanan dan sopan santu tenaga kesehatan belum optimal;
3. Rumsah
sakit umum daerah (RSUD) Kabupaten Buleleng masih kalah dibandingkan dengan
rumah sakit swasta;
4. Puskesmas
masih kekurangan tenaga medis;
5. Proses
administrasi yang dinilai masih rumit; dan
6. Proses
peminjaman ambulans dinilai masih bersifat birokratis. Ambulans merupakan
layanan publik penting untuk menjamin penanganan kegawatdaruratan, rujukan, dan
transportasi pasien.
Berdasarkan hasil focus group discussion pada masing-masing kecamatan terungkap
beberapa peramasalahan bertalian dengan layanan pendidikan;
1. Beberapa
tanah Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama masih menjadi milik perorangan;
2. Program
pakaian gratis belum menjangkau semua anak sekolah yang ada di Kabupaten
Buleleng;
3. Kualitas
sekolah di Kabupaten Buleleng yang belum merata; dan
4. Dana
oprasional Taman Kanak-Kanak masih terlalu minim.
Berdasarkan hasil focus group discussion pada masing-masing kecamatan terungkap
beberapa peramasalahan bertalian dengan layanan ekonomi;
1. Lapangan
pekerjaan yang disediakan sering tidak sembanding dengan upah/gaji yang
diterima pekerja;
2. Hasil
pertanian murah saat sedang panen raya;
3. Diperlukan
fasilitasi UMKM untuk melakukan ekspor produk yang dihasilkan;
4. Kesulitan
dalam mencari tenaga kerja lokal untuk pekerja kasar; dan
5. Kenaikan
harga kebutuhan pokok tiap hari raya Galungan.
Berdasarkan hasil focus group discussion pada masing-masing kecamatan terungkap beberapa hal bertalian dengan layanan fasilitas publik;
1. Dibutuhkan
penertiban pedagang pendatang yang berjualan di berbagai tempat keramaian;
2. Pengelolaan
sampah yang belum bersifat sistematis dan terstruktur;
3. Diperlukan
adanya penertiban bagi penduduk pendatang; dan
4. Pementasan
kesenian legendaris masing belum optimal.
Berdasarkan hasil focus group discussion pada masing-masing kecamatan terungkap
beberapa peramasalahan bertalian dengan layanan fasilitas publik;
1. Beberapa
desa di Kabupaten Buleleng masih mengalami krisis air bersih;
2. Masih
banyak jalan yang rusak di Kabupaten Buleleng;
3. Produk
unggulan daerah tidak dibeli oleh langsung oleh restoran dan pelaku usaha di
daerah;
4. Fasilitas
kesehatan belum merata; dan
5. Penanganan
sampah belum maksimal.
Berdasarkan hasil focus group discussion pada masing-masing kecamatan terungkap
beberapa peramasalahan bertalian dengan layanan prioritas pembangunan
infrastruktur;
1. Dibutuhkan
rehabilitasi jalan antar desa;
2. Dibutuhkan
Pembangunan jaringan internat yang merata bagi warga masyarakat;
3. Pembangunan
totoar khususnya pada wilayah kecamatan sangat dibutuhkan;
4. Beberapa
Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Utama memerlukan perbaikan; dan
5. Pasar desa
perlu penataan.
Berdasarkan hasil focus group discussion pada masing-masing kecamatan terungkap
beberapa peramasalahan bertalian dengan layanan hukum;
1. Pelaksanaan
perda sering bersifat tebang pilih;
2. Perizinan
dengan sistem online menjadi rumit di tingkat desa;
3. Peraturan
Daerah sering kurang relevan dengan kebutuhan masyarakat; dan
4. Perda
kurang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Berdasarkan hasil focus group discussion pada masing-masing kecamatan terungkap
beberapa peramasalahan bertalian dengan layanan sosial, adat dan budaya;
1. Buleleng
Festival dan event lainnya menampilkan artis nasional;
2. Biaya untuk
pelestarian adat, seni dan budaya masih sangat terbatas;
3. Kuota untuk
bantuan Lanasia masih bersifat terbatas;
4. Pembinaan
untuk sanggar dan pasraman masih minim; dan
5. pekerjaan
sektor non-formal belum mendapatkan jaminan sosial yang memadai.
Pada aspek kesehatan menyangkut beberapa aspek;
1. Penguatan
kualitas sumber daya manusia;
2. Penguatan
layanan kesehatan;
3. Pemerataan
tenaga kesehatan; dan
4. Membangun
kesetaraan layanan.
Pada prioritas Pembangunan infrastruktur menyangkut beberapa aspek;
1. Perbaikan
jalan yang rusak, baik penghubung antar kecamatan dan antar desa;
2. Pengelolaan
sampah yang belum teritegrasi antar sektor dan instansi; dan
3. Investasi
infrastruktur untuk peningkatan ekonomi Kabupaten Buleleng
Pada aspek ekonomi menyangkut beberapa aspek;
1. Dampak
program pemerintah terhadap kesejahteraan ekonomi masyarakat;
2. Stabilitas
harga kebutuhan pokok; dan
3. Jaminan harga produk pertanian dan UMKM di Kabupaten Buleleng.
Sumber: Himpunan Buku Hasil Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten
Buleleng Tahun 2025 Brida Buleleng (hal. 41-42)