Permasalahan pengelolaan sampah yang masih menjadi tantangan, khususnya dalam mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), mendorong perlunya implementasi pengelolaan sampah berbasis sumber dan partisipasi masyarakat. Pendekatan ini menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah tangga sebagai bagian dari pengelolaan sampah dari hulu, yaitu dari sumber penghasil sampah.
TPS 3R Baktiseraga
Bersih merupakan salah satu contoh keberhasilan pengelolaan sampah berbasis
konsep Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) yang telah beroperasi sejak tahun 2020.
Pengelolaan sampah di lokasi ini berfokus pada pemilahan sampah dari sumber,
pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos berkualitas tinggi, serta daur
ulang sampah anorganik.
Keberhasilan TPS 3R
Baktiseraga tidak terlepas dari peran aktif masyarakat dalam melakukan
pemilahan sampah sejak dari rumah tangga. Selain itu, sistem pengangkutan
sampah di tingkat rumah tangga juga telah diatur dengan baik, dimana pengambilan
sampah organik dan nonorganik dilakukan pada hari yang berbeda sesuai jadwal
yang telah ditetapkan. Apabila sampah tidak dipilah oleh warga, maka pengelola
tidak akan melakukan pengambilan sampah tersebut. Kebijakan ini menjadi bentuk
edukasi sekaligus penegakan disiplin dalam pengelolaan sampah berbasis
masyarakat. Selain itu, TPS 3R ini juga berfungsi sebagai pusat edukasi dan
sering menjadi lokasi studi banding bagi berbagai pihak, serta pernah
mendapatkan kunjungan dari berbagai instansi pusat.
Bagian dari upaya
penguatan kebijakan berbasis data, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA)
Kabupaten Buleleng melaksanakan pendampingan terhadap Tim Penyusun Kajian
Implementasi Gerakan Bali Bersih Sampah Provinsi Bali (GBBS) dalam rangka
pendalaman data dan fakta lapangan. Kegiatan ini dilakukan melalui kunjungan
langsung ke TPS 3R Baktiseraga Bersih sebagai salah satu lokasi percontohan
pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kabupaten Buleleng, Kamis (16/4)
pagi.
Kegiatan survei
lapangan tersebut dilaksanakan oleh Analis Kebijakan Ahli Madya BRIN, Argoposo
C. Nugroho bersama Peneliti BRIN, I Gusti Ngurah Jayanti. Kehadiran tim
disambut langsung oleh pengelola TPS 3R Baktiseraga Bersih yang berada di bawah
pengelolaan Unit Pengelolaan Sampah Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) Desa
Baktiseraga.
Dalam pengelolaannya,
sampah organik seperti sampah dapur dan ranting diolah menjadi pupuk kompos
yang tidak berbau dan memiliki kualitas baik. Proses pengolahan menggunakan
metode Osaki dengan waktu produksi sekitar tiga bulan hingga siap dipasarkan.
Produk kompos yang dihasilkan memiliki permintaan yang tinggi dan
didistribusikan secara produktif kepada berbagai pihak, terutama petani lokal
di wilayah Baktiseraga dan sekitarnya.
Selain itu, hasil
olahan juga dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan urban farming desa, serta
dipasarkan kepada masyarakat umum melalui sistem pemesanan. Pengelolaan dan
pemasaran produk berada di bawah naungan BUMDes Desa Baktiseraga. Adapun produk
yang dihasilkan meliputi media tanam, pupuk kompos, arang sekam, pupuk cair,
serta pupuk kandang (kohe kambing) dengan harga yang terjangkau.
Upaya tersebut terbukti mampu mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA secara signifikan. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Melalui kegiatan ini, diharapkan diperoleh data
dan informasi yang komprehensif sebagai bahan penyusunan kajian implementasi
Gerakan Bali Bersih Sampah, sekaligus menjadi referensi dalam pengembangan
model pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berkelanjutan di Provinsi
Bali, khususnya di Kabupaten Buleleng. #Sck