Elemen pertama dalam analisis kesenjangan ekosistem riset dan inovasi di daerah adalah kebijakan dan infrastruktur. Ini merupakan hal mendasar yang berkenaan dengan daya dukung pemerintah daerah untuk memasukkan agenda pengembangan ekosistem riset dan inovasi ke dalam agenda kebijakan.
1. Kapasitas Kelembagaan dan Daya Dukung Riset dan Inovasi Daerah
Ekosistem riset dan inovasi di daerah tumbuh berdasarkan kapasitas kelembagaan dan daya dukungnya. Kelembagaan dan daya dukung yang dimaksud adalah sistem dan mekanisme interaksi organisasi dengan lingkungannya yang diatur melalui tata aturan yang mengikat untuk menciptakan efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan riset dan inovasi di daerah.
2. Kemitraan Riset dan Inovasi Daerah
Ekosistem riset dan inovasi di daerah didukung oleh adanya kemitraan antar
perangkat daerah yang solid dan harmonis. Brida sebagai penyelenggara pusat
riset dan inovasi di daerah butuh bermitra dengan perangkat daerah sebagai
pelaksana teknis kebijakan publik sekaligus pengguna hasil riset dan inovasi.
3. Budaya Riset dan Inovasi di Daerah
Budaya riset dan inovasi di daerah memegang peran penting untuk menciptakan
keberlanjutan riset dan inovasi di daerah. Budaya ini memastikan pola perilaku
dan nilai yang dianut dalam konteks ekosistem riset dan inovasi di daerah terus
berlansung dan berkembang.
4. Keterpaduan Riset dan Inovasi Daerah
Riset dan inovasi terbaik adalah keselarasan dengan kebutuhan masyarakat dan
pemerintah, produk unggulan yang menjadi target sasaran, dan solutif terhadap
permasalahan di daerah. Elemen keterpaduan riset dan inovasi di daerah menjadi
elemen yang penting untuk diukur. Elemen ini merupakan ukuran kegiatan riset
dan inovasi di daerah telah selaras dengan kondisi di daerah.
5. Penyelarasan Dengan Perkembangan Global
Elemen penyelarasan dengan perkembangan global perlu dipertimbangkan untuk memberikan perspektif yang beragam dalam melaksanakan riset dan inovasi di daerah. Upaya penyelarasan riset dan inovasi daerah dengan perkembangan global belum dikembangkan secara optimal. Adaptasi isu internasional tampaknya belum menjadi variabel utama dalam penentuan arah kebijakan penguatan ekosistem riset dan inovasi di daerah.
Sumber: Himpunan Buku Hasil Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Buleleng Tahun
2025 Brida Buleleng (hal. 20-21)