(0362) 27719
brida@bulelengkab.go.id
Badan Riset dan Inovasi Daerah

Dampak Ketimpangan Pembangunan Bali Utara dan Selatan

Admin brida | 19 Februari 2026 | 285 kali

Adanya ketimpangan pembangunan wilayah Bali Utara dan Bali Selatan, dimana pembangunan ekonomi Bali lebih terfokus di Bali Selatan (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan) terutama sektor pariwisata. Hampir 80% infrastruktur pariwisata (hotel berbintang, bandara internasional, kawasan hiburan) terkonsentrasi di selatan. Wilayah Bali Utara mencakup Buleleng, Jembrana, Karangasem dan Bangli, pembangunannya relatif tertinggal, dikarenakan akses transportasi, investasi dan infrastruktur pariwisata kurang berkembang. Hal ini memberikan dampak pada tingkat kemiskinan di Kabupaten Buleleng relatif lebih tinggi sebesar 5,39% pada tahun 2024 dibandingkan dengan rata-rata Provinsi Bali sekitar 4%. Serta berdampak pada tingkat pendapatan per-kapita masyarakat di Bali Utara jauh lebih rendah dibandingkan dengan di Bali Selatan yang bertumpu pada pariwisata internasional. Hal ini menyebabkan adanya ketimpangan kesenjangan sosial-ekonomi antar daerah di Provinsi Bali, sehingga banyak masyarakat Bali Utara masih bergantung kepada sektor tradisional seperti: pertanian, nelayan serta UMKM.

 

Akses utama Bali Utara ke Bali Selatan hanya melalui jalur darat dengan medan berat (Bedugul atau Kintamani), sering macet dan rawan longsor. Rencana pembangunan Tol Gilimanuk Mengwi dan Pelabuhan Celukan Bawang belum optimal mendukung mobilitas ekonomi. Fasilitas pariwisata modern di Buleleng masih terbatas, sehingga wisatawan internasional jarang langsung masuk ke Bali Utara, padahal Buleleng memiliki potensi besar dalam pariwisata (Pantai Lovina, Air Terjun Gitgit, Danau Buyan-Tamblingan).


Sumber: Himpunan Buku Hasil Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Buleleng Tahun 2025 Brida Buleleng (hal. 8-9)