Permasalahan dalam pengembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Buleleng mencakup berbagai aspek yang berkaitan dengan regulasi, akses permodalan, inovasi, dan infrastruktur pendukung. Berikut adalah beberapa permasalahan utama yang dihadapi dalam upaya pengembangan ekonomi kreatif di wilayah ini.
a) Kurangnya Regulasi yang Mendukung
Regulasi yang spesifik mengenai
perlindungan dan pengembangan ekonomi kreatif masih belum optimal. Ketiadaan
peraturan daerah yang mengatur secara rinci strategi dan langkah konkret dalam
mendukung sektor ekonomi kreatif menjadi kendala utama.
b) Keterbatasan Akses Permodalan
Banyak pelaku ekonomi kreatif
mengalami kesulitan dalam mendapatkan modal usaha. Skema pendanaan yang ada
masih belum sepenuhnya mencakup kebutuhan pelaku usaha kecil dan menengah dalam
sektor ekonomi kreatif.
c) Kurangnya Infrastruktur Pendukung
Infrastruktur yang tersedia, seperti
ruang kreatif, pusat pengembangan usaha, dan akses teknologi, masih terbatas.
Hal ini menghambat pengembangan dan ekspansi bisnis kreatif di Kabupaten
Buleleng.
d) Kurangnya Kesadaran Akan Hak Kekayaan
Intelektual (HKI)
Banyak pelaku usaha ekonomi kreatif
belum memahami pentingnya perlindungan HKI. Akibatnya, produk kreatif mereka
rentan terhadap plagiarisme dan eksploitasi tanpa izin.
e) Minimnya Inovasi dan Adaptasi
Teknologi
Perkembangan teknologi digital belum
dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku ekonomi kreatif di Kabupaten Buleleng.
Kurangnya literasi digital menjadi tantangan dalam pemasaran dan pengembangan
produk.
f) Terbatasnya Akses Pasar
Pelaku usaha ekonomi kreatif masih
mengalami kendala dalam memperluas jaringan pemasaran, baik di tingkat nasional
maupun internasional. Pemasaran berbasis digital dan e-commerce masih kurang
berkembang di Kabupaten Buleleng.
g) Kurangnya Kolaborasi dengan Pihak
Swasta dan Akademisi
Kerja sama
antara pelaku usaha, pemerintah, akademisi, dan sektor swasta masih minim.
Padahal, kolaborasi ini sangat penting dalam menciptakan ekosistem ekonomi
kreatif yang berkelanjutan.
h) Kurangnya Pelatihan dan Pengembangan
SDM
Pelaku
ekonomi kreatif sering kali menghadapi keterbatasan dalam hal keterampilan
bisnis, manajemen keuangan, dan pemasaran. Program pelatihan yang mendukung
masih terbatas.
i) Kurangnya Dukungan dari Pemerintah
Daerah
Meskipun
terdapat berbagai inisiatif, kebijakan yang diterapkan belum sepenuhnya
memberikan dukungan nyata bagi pelaku ekonomi kreatif, terutama dalam hal
perizinan dan insentif usaha.
j) Minimnya Akses Pelaku Usaha terhadap
Pendampingan Bisnis
Banyak
pelaku usaha ekonomi kreatif yang tidak mendapatkan pendampingan yang cukup
dalam pengelolaan bisnis mereka, sehingga kesulitan dalam mengembangkan usahanya.
k) Persaingan yang Tinggi di Pasar Lokal
dan Global
Produk
ekonomi kreatif Kabupaten Buleleng harus bersaing dengan produk dari daerah
lain yang memiliki daya saing lebih tinggi baik dari segi kualitas maupun harga.
l) Terbatasnya Sarana Promosi dan
Branding
Banyak
pelaku usaha kesulitan dalam membangun merek yang kuat dan melakukan promosi
yang efektif, sehingga produk mereka kurang dikenal di pasar yang lebih luas.
m) Tingkat Konsumsi Produk Lokal yang
Masih Rendah
Kesadaran
masyarakat terhadap produk lokal masih perlu ditingkatkan agar lebih banyak
produk ekonomi kreatif yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
n) Kurangnya Integrasi dengan Pariwisata
Sektor pariwisata yang berkembang di Kabupaten Buleleng seharusnya dapat lebih terintegrasi dengan ekonomi kreatif untuk meningkatkan nilai tambah bagi kedua sektor.
Permasalahan-permasalahan ini menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Buleleng membutuhkan solusi yang lebih komprehensif, mulai dari regulasi hingga dukungan infrastruktur dan sumber daya manusia.
Sumber: Saraswati Jurnal Kelitbangan Kabupaten Buleleng Volume 4 Nomor 2 Tahun
2025 (Hal. 7-9)