Program Bestari FIP Undiksha Wujudkan Sinergi Riset dan Inovasi Aksara Bali Inklusif bagi Tunanetra
Admin brida | 18 Agustus 2026 | 16 kali
Buleleng - Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) program Bestaru, Selasa (18/8) di Ruang Seminar FIP B kampus setempat.
Kegiatan ini dihadiri oleh Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng, Dinas Sosial P3A Kabupaten Buleleng, Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kabupaten Buleleng, Dekan Fakultas Teknik dan Kejuruan (FTK) Undiksha, Kepala SLB Negeri 1 Buleleng, Kepala SLB Negeri 2 Buleleng, pengrajin UD Karya Jati Utama, serta pengurus Pertuni Buleleng.
Forum ini dirancang khusus untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, instansi pemerintah daerah, satuan pendidikan khusus, organisasi disabilitas, hingga pelaku industri lokal dalam mengembangkan ekosistem literasi yang ramah bagi penyandang tunanetra.
Rangkaian acara diawali dengan laporan pelaksanaan kegiatan yang disampaikan oleh Ketua Panitia Program Bestari, Prof. Dr. I Komang Sudarma, S.Pd., M.Pd. Dalam laporannya dipaparkan latar belakang, tujuan, serta target utama pelaksanaan Program Bestari sebagai bagian dari upaya memperkuat kolaborasi lintas sektor, dalam pengembangan inovasi dan media pembelajaran yang inklusif.
Selanjutnya, sambutan dari Dekan FIP Undiksha, Prof. Dr. I Wayan Widiana, S.Pd., M.Pd., sekaligus membuka secara resmi FGD Program Bestari. Dalam sambutannya, Prof. Widiana menegaskan komitmen FIP Undiksha untuk terus mendorong pengembangan inovasi dan media pembelajaran inklusif yang tidak hanya berbasis pada hasil riset, tetapi juga mampu memberikan manfaat dan dampak nyata bagi masyarakat. Prof. Widiana juga menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam memastikan hasil inovasi dapat diimplementasikan secara berkelanjutan.
Dukungan kuat dari Pemerintah Daerah Kabupaten Buleleng mengemuka dalam sambutan Kepala Brida Buleleng, Ketut Suwarmawan, S.STP., M.M. Kepala Brida menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada FIP Undiksha atas inisiatif dan kontribusinya dalam melaksanakan kegiatan riset di Kabupaten Buleleng.
Dalam sambutannya, Suwarmawan menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi antara Pemerintah Daerah dengan perguruan tinggi dalam pelaksanaan penelitian dan pengembangan. Penelitian yang dilaksanakan di daerah diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi dapat terintegrasi dan selaras dengan hasil riset perguruan tinggi, sehingga menghasilkan rekomendasi dan inovasi yang berdaya guna, memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, serta dapat diimplementasikan secara berkelanjutan. Melalui kolaborasi yang terarah dan sinergis, hasil penelitian diharapkan mampu menjawab kebutuhan serta permasalahan pembangunan di Kabupaten Buleleng dan tidak berhenti pada tataran kajian semata.
Selanjutnya, Disdikpora Buleleng juga menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas pelaksanaan FGD Program Bestari, yang telah melibatkan masyarakat Kabupaten Buleleng sebagai bagian dari proses penelitian. Kepala Disdikpora menyampaikan bahwa kegiatan penelitian ini merupakan langkah inovatif dalam mendekatkan pembelajaran, dan pengetahuan Bahasa Bali serta Aksara Bali kepada masyarakat, khususnya bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan dalam membaca aksara Latin maupun dalam memahami dan menggunakan Bahasa Bali.
Lebih lanjut, kegiatan penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pengembangan metode dan media pembelajaran yang lebih inklusif, mudah diakses, serta sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Usai sesi pembukaan, acara melangkah ke agenda inti pemaparan materi dari para ahli. Narasumber pertama, Prof. Dr. Gede Indrawan, S.T., M.T., memaparkan inovasi bertajuk Media Reaksi (Relief Aksara Bali). Alat ini berupa balok huruf timbul berbahan kayu jati organik yang aman dan dirancang khusus agar anak-anak tunanetra dapat belajar membaca serta menulis Aksara Bali melalui kombinasi perabaan dan bantuan suara.
Prof. Gede Indrawan menjelaskan bahwa kedalaman relief dan margin sentuh media telah dikalibrasi presisi sesuai sensitivitas jari tunanetra, serta berlandaskan regulasi pelestarian budaya seperti PP Bali No. 3/1992, Pergub Bali No. 80/2018, dan SE Gubernur Bali No. 3172/2019. Dari segi teknologi, media REAKSI berkembang dari modul manual ISD1820 menjadi sistem interaktif berbasis mikrokontroler Arduino Nano dan dua titik sensor sentuh. Saat jari meraba aksara dari sensor awal hingga sensor akhir, sistem secara otomatis mengenali kebenaran pola dan memutar suara pelafalan aksara secara mandiri.
Paparan berlanjut ke narasumber kedua, Dr. I Ketut Paramarta, S.S., M.Hum., yang mengulas landasan teoritis kebahasaan dalam adaptasi Aksara Bali inklusif. Dr. Paramarta menjelaskan perkembangan tipologi sistem tulisan dunia, dari model klasik (Edward dan Isaac Taylor, 1883), hingga model linguistik tiga dimensi modern (Henry Rogers, 2005) yang memetakan tulisan berdasarkan fonografi, morfografi, dan kedalaman ortografis.
Lebih lanjut, Dr. Paramarta menekankan pentingnya memahami Elusive Trinity (Writing System, Script, dan Ortography) agar alih media dari visual ke taktil tidak merusak kaidah bahasa asli. Sebagai solusi, Paramarta merumuskan tiga kriteria adaptasi Aksara Bali untuk tunanetra berdasarkan teori Joyce dan Meletis (2021): Processing Fit (kemudahan pengolahan taktil oleh jari), Linguistic Fit (keakuratan struktur gantungan dan pangangge), serta Socio-Cultural Fit (kesesuaian sosial dan pelestarian identitas budaya Bali berlandaskan UU No. 5/2017 dan Perda Bali No. 1/2008). #Adt