FGD Tingkat Kecamatan Gali Kondisi Riil Rencana Induk Pengembangan Pendidikan di Kabupaten Buleleng
Admin brida | 12 Agustus 2026 | 30 kali
Buleleng - Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kabupaten Buleleng bersama Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja kembali melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Tingkat Kecamatan, dalam rangka Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pendidikan Kabupaten Buleleng. Kegiatan berlangsung di Ruang Rapat Kantor Camat Kubutambahan, Rabu (12/8).
FGD ini merupakan bagian dari rangkaian pengumpulan data yang dilaksanakan di sembilan kecamatan di Kabupaten Buleleng. Untuk wilayah timur, kegiatan melibatkan Kecamatan Kubutambahan, Tejakula, dan Sawan. Pelaksanaan FGD diarahkan untuk menggali kondisi eksisting, tantangan, permasalahan, potensi, serta kebutuhan pengembangan pendidikan sebagai bahan penyusunan dokumen perencanaan pendidikan yang berbasis data dan kondisi riil di lapangan.
Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Brida Kabupaten Buleleng, drg. I Ketut Wika. Dalam sambutannya disampaikan bahwa penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pendidikan Kabupaten Buleleng merupakan usulan dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng, yang dalam pelaksanaannya dikerjakan Brida melalui kerja sama dengan Undiksha melalui mekanisme swakelola tipe II.
Melalui FGD ini, para peserta diharapkan memberikan informasi dan masukan konstruktif mengenai kondisi pendidikan di wilayah masing-masing. Data yang dihimpun tidak hanya berkaitan dengan jumlah siswa, guru, tenaga kependidikan, serta sarana dan prasarana, tetapi juga mencakup berbagai hambatan, tantangan, keunggulan sekolah, serta kebutuhan intervensi dan solusi yang dapat menjadi pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pendidikan daerah.
Selanjutnya, Tim Pelaksana Undiksha memandu jalannya diskusi yang dipimpin oleh I Wayan Budiarta, S.Pd., M.Pd. Diskusi difokuskan pada tiga pokok pembahasan, yaitu kondisi eksisting pendidikan, permasalahan dan tantangan yang dihadapi sekolah, serta masukan solusi dan arah kebijakan yang diperlukan dalam pengembangan pendidikan Kabupaten Buleleng.
Dalam pembahasan kondisi eksisting, peserta menyampaikan sejumlah dinamika di lapangan, mulai dari perkembangan jumlah peserta didik pada jenjang TK, SD, dan SMP, ketersediaan tenaga pendidik dan kependidikan, hingga kondisi sarana prasarana. Salah satu perhatian yang mengemuka adalah masih adanya sekolah yang mengalami kekurangan guru, bahkan pada beberapa sekolah kekurangan tenaga pengajar mencapai beberapa orang sehingga berdampak pada pengaturan pembelajaran.
Para pengawas sekolah juga menyoroti potensi putus sekolah dan rendahnya minat melanjutkan pendidikan yang pada beberapa kasus berkaitan dengan kondisi ekonomi keluarga maupun pilihan anak untuk bekerja. Persoalan tersebut dinilai perlu mendapat perhatian melalui penguatan koordinasi antara sekolah, orang tua, pemerintah desa, dan pihak terkait lainnya.
Selain persoalan tenaga pendidik, peserta mengungkapkan sejumlah tantangan dalam pemenuhan sarana dan prasarana. Beberapa sekolah masih mengalami keterbatasan ruang kelas sehingga harus menerapkan pembelajaran dengan sistem double shift, sementara sekolah lainnya membutuhkan ruang guru, laboratorium, perpustakaan, toilet, UKS, maupun fasilitas pendukung pembelajaran lainnya.
Kondisi geografis juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kualitas sarana pendidikan. Salah satu sekolah yang telah mengalami regrouping dengan sekolah lain menyampaikan bahwa sejumlah fasilitas mengalami kerusakan karena berada di kawasan pesisir. Sementara itu, sekolah satu atap di wilayah Kubutambahan juga masih menghadapi keterbatasan ruang karena jumlah ruang yang tersedia belum mampu mendukung pengembangan fasilitas sekolah secara optimal.
Dalam diskusi juga muncul perhatian terhadap keberadaan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Kecamatan Kubutambahan memiliki sekolah yang melayani peserta didik berkebutuhan khusus di Desa Bengkala dan menjadi salah satu lokasi yang menerima siswa dari luar wilayah kecamatan. Keberadaan tenaga khusus yang terlatih menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung layanan pendidikan tersebut.
Di tengah berbagai tantangan, peserta FGD turut menyampaikan sejumlah potensi dan keunggulan sekolah yang dapat dikembangkan. Salah satunya adalah potensi sekolah yang berada di kawasan desa wisata dan memiliki peluang membangun kemitraan dengan dunia usaha, CSR, perguruan tinggi, maupun sekolah internasional. Peserta didik juga telah dilibatkan dalam penelitian dan pengenalan kearifan lokal sebagai bagian dari upaya memperkuat pembelajaran berbasis lingkungan dan budaya.
Penguatan kemitraan dengan pemerintah desa dan berbagai pihak juga dinilai penting untuk mendukung pengembangan sekolah, terutama dalam pemanfaatan potensi lokal serta pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana.
Selain itu, peserta menyampaikan aspirasi terkait kesejahteraan dan pengembangan karier guru maupun kepala sekolah. Salah satu isu yang dibahas adalah perlunya perhatian terhadap penghargaan dan dukungan bagi kepala sekolah yang saat ini menjalankan tugas tambahan dengan tanggung jawab yang besar. Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi bahan kajian agar jabatan kepala sekolah tetap memiliki daya tarik dan didukung dengan kebijakan yang memadai.
Berbagai persoalan yang disampaikan dalam FGD menjadi masukan penting bagi tim penyusun untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi pendidikan di lapangan. Data eksisting sekolah, termasuk jumlah siswa, guru, tenaga kependidikan, kebutuhan tenaga pendidik, sarana prasarana, serta berbagai persoalan dan potensi sekolah akan menjadi bagian penting dalam analisis penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pendidikan Kabupaten Buleleng.
Melalui pengumpulan data dan masukan secara langsung dari sekolah, pengawas, komite, serta pemangku kepentingan pendidikan, penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pendidikan diharapkan mampu menghasilkan dokumen perencanaan yang berbasis data, responsif terhadap kebutuhan daerah, dan mampu menjadi dasar pengambilan kebijakan pendidikan Kabupaten Buleleng ke depan. Pelaksanaan FGD wilayah timur dihadiri oleh unsur kepala sekolah, guru, komite sekolah, serta pengawas SD dan SMP dari Kecamatan Kubutambahan, Tejakula, dan Sawan. #Sck