(0362) 27719
brida@bulelengkab.go.id
Badan Riset dan Inovasi Daerah

BRIN Monitoring PPBR Buleleng Bangun Ekosistem Inovasi

Admin brida | 03 Juni 2026 | 1104 kali

Buleleng - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaksanakan kegiatan Monitoring Perkembangan Inkubasi Perusahaan Pemula Berbasis Riset (PPBR) CV. Pionir Akselerasi Sejahtera sekaligus Diskusi Program RIIM (Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju) Startup BRIN–LPDP, Rabu (3/6) di Gedung Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM Kabupaten Buleleng, Jalan Ahmad Yani, Lingkungan Pidada, Kelurahan Banyuasri, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng.

 

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Drs. Dewa Made Sudiarta, M.Si, yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga riset, dunia usaha, dan pelaku UMKM dalam membangun ekosistem inovasi yang mampu meningkatkan daya saing daerah. Beliau menyampaikan bahwa penguatan inovasi berbasis riset merupakan salah satu strategi penting dalam mendorong transformasi ekonomi daerah melalui lahirnya wirausaha-wirausaha inovatif yang mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.

 

Kegiatan ini menghadirkan 10 UMKM potensial (UMKM naik kelas) dari berbagai sektor usaha di Kabupaten Buleleng yang memiliki peluang untuk mengembangkan produk dan layanan berbasis inovasi. Kegiatan tersebut juga didampingi oleh Adhy Wicaksana selaku Analis Kebijakan Ahli Muda pada Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Buleleng, yang selama ini mendorong pengembangan ekosistem inovasi daerah, pendampingan startup, serta fasilitasi pemanfaatan hasil riset untuk mendukung peningkatan daya saing daerah.

 

Materi utama disampaikan oleh Drizal Fryantoni, M.Eng.Sc., Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Kementerian/Lembaga, Masyarakat, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah BRIN. Dalam paparannya, beliau menjelaskan berbagai peluang yang tersedia melalui Program RIIM Startup sebagai instrumen strategis pemerintah untuk mempercepat hilirisasi hasil riset menjadi produk dan usaha yang bernilai ekonomi.

 

Pada kesempatan tersebut, Drizal Fryantoni menjelaskan bahwa Skema Pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Startup merupakan program pendanaan yang bersumber dari imbal hasil Dana Abadi Penelitian yang dikelola oleh LPDP. Program ini ditujukan bagi startup berbasis riset yang telah memiliki produk atau jasa yang siap dikomersialisasikan sehingga dapat berkembang menjadi perusahaan yang mandiri, menguntungkan, dan berkelanjutan.

 

RIIM Startup membuka peluang bagi startup yang mengembangkan hasil riset dari BRIN maupun hasil riset yang berasal dari perguruan tinggi, pemerintah daerah, lembaga penelitian, dan masyarakat. Melalui program ini, hasil-hasil penelitian yang selama ini hanya berhenti pada tahap laboratorium didorong untuk memasuki pasar dan memberikan dampak nyata bagi pembangunan ekonomi nasional maupun daerah.

 

Sejak tahun 2022 hingga 2026, program pendanaan PPBR dan RIIM Startup telah menyalurkan pendanaan lebih dari Rp39,4 miliar kepada 102 startup dan perusahaan pemula berbasis riset di seluruh Indonesia. Startup penerima pendanaan tersebar di berbagai bidang strategis seperti pangan, kesehatan, energi, teknologi informasi, lingkungan, manufaktur, ekonomi biru, maritim, hingga sosial humaniora.

 

Khusus di Provinsi Bali, beberapa startup telah berhasil memperoleh pendanaan RIIM Startup, termasuk CV. Pionir Akselerasi Sejahtera dari Kabupaten Buleleng yang saat ini sedang menjalani proses monitoring perkembangan inkubasi. Keberhasilan startup asal Buleleng tersebut menjadi bukti bahwa daerah memiliki potensi besar dalam melahirkan inovasi yang mampu berkembang menjadi usaha yang berdaya saing tinggi.

 

Dalam diskusi juga dijelaskan mengenai penguatan skema RIIM Startup BRIDA, yaitu program yang memberikan peran lebih besar kepada BRIDA dalam mengidentifikasi, mendampingi, membina, dan merekomendasikan startup berbasis riset dari daerah. Melalui skema ini, BRIDA menjadi ujung tombak dalam menjaring inovator dan pelaku usaha daerah yang berpotensi mengembangkan hasil riset menjadi produk komersial.

 

Selain membahas peluang pendanaan, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai persyaratan pengusulan, tahapan seleksi, penyusunan proposal bisnis, penyusunan Business Model Canvas (BMC), penyusunan rencana anggaran biaya, hingga strategi hilirisasi dan komersialisasi produk inovasi. Startup yang lolos seleksi berkesempatan memperoleh pendanaan hingga Rp300 juta per tahun dengan masa pendanaan maksimal dua tahun.


Melalui kegiatan monitoring dan sosialisasi ini, BRIN bersama BRIDA Kabupaten Buleleng berharap dapat memperkuat ekosistem inovasi daerah, memperluas pemanfaatan hasil riset, meningkatkan kapasitas UMKM berbasis teknologi, serta mendorong lahirnya lebih banyak startup inovatif yang mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah. Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara BRIN, BRIDA, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pelaku usaha dalam mewujudkan Buleleng sebagai daerah yang semakin maju melalui riset, inovasi, dan kewirausahaan berbasis teknologi. #Wck