Buleleng - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaksanakan kegiatan Monitoring Perkembangan Inkubasi Perusahaan Pemula Berbasis Riset (PPBR) CV. Pionir Akselerasi Sejahtera sekaligus Diskusi Program RIIM (Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju) Startup BRIN–LPDP, Rabu (3/6) di Gedung Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM Kabupaten Buleleng, Jalan Ahmad Yani, Lingkungan Pidada, Kelurahan Banyuasri, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Drs. Dewa Made Sudiarta, M.Si, yang
dalam sambutannya menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga
riset, dunia usaha, dan pelaku UMKM dalam membangun ekosistem inovasi yang
mampu meningkatkan daya saing daerah. Beliau menyampaikan bahwa penguatan
inovasi berbasis riset merupakan salah satu strategi penting dalam mendorong
transformasi ekonomi daerah melalui lahirnya wirausaha-wirausaha inovatif yang
mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Kegiatan ini menghadirkan 10 UMKM potensial (UMKM naik kelas) dari
berbagai sektor usaha di Kabupaten Buleleng yang memiliki peluang untuk
mengembangkan produk dan layanan berbasis inovasi. Kegiatan tersebut juga
didampingi oleh Adhy Wicaksana selaku Analis Kebijakan Ahli Muda pada Badan
Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Buleleng, yang selama ini mendorong
pengembangan ekosistem inovasi daerah, pendampingan startup, serta fasilitasi
pemanfaatan hasil riset untuk mendukung peningkatan daya saing daerah.
Materi utama disampaikan oleh Drizal Fryantoni, M.Eng.Sc., Direktur
Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Kementerian/Lembaga, Masyarakat, Usaha
Mikro, Kecil dan Menengah BRIN. Dalam paparannya, beliau menjelaskan berbagai
peluang yang tersedia melalui Program RIIM Startup sebagai instrumen strategis
pemerintah untuk mempercepat hilirisasi hasil riset menjadi produk dan usaha
yang bernilai ekonomi.
Pada kesempatan tersebut, Drizal Fryantoni menjelaskan bahwa Skema
Pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Startup merupakan
program pendanaan yang bersumber dari imbal hasil Dana Abadi Penelitian yang
dikelola oleh LPDP. Program ini ditujukan bagi startup berbasis riset yang
telah memiliki produk atau jasa yang siap dikomersialisasikan sehingga dapat
berkembang menjadi perusahaan yang mandiri, menguntungkan, dan berkelanjutan.
RIIM Startup membuka peluang bagi startup yang mengembangkan hasil riset
dari BRIN maupun hasil riset yang berasal dari perguruan tinggi, pemerintah
daerah, lembaga penelitian, dan masyarakat. Melalui program ini, hasil-hasil
penelitian yang selama ini hanya berhenti pada tahap laboratorium didorong
untuk memasuki pasar dan memberikan dampak nyata bagi pembangunan ekonomi
nasional maupun daerah.
Sejak tahun 2022 hingga 2026, program pendanaan PPBR dan RIIM Startup
telah menyalurkan pendanaan lebih dari Rp39,4 miliar kepada 102 startup dan
perusahaan pemula berbasis riset di seluruh Indonesia. Startup penerima
pendanaan tersebar di berbagai bidang strategis seperti pangan, kesehatan,
energi, teknologi informasi, lingkungan, manufaktur, ekonomi biru, maritim,
hingga sosial humaniora.
Khusus di Provinsi Bali, beberapa startup telah berhasil memperoleh
pendanaan RIIM Startup, termasuk CV. Pionir Akselerasi Sejahtera dari Kabupaten
Buleleng yang saat ini sedang menjalani proses monitoring perkembangan
inkubasi. Keberhasilan startup asal Buleleng tersebut menjadi bukti bahwa
daerah memiliki potensi besar dalam melahirkan inovasi yang mampu berkembang
menjadi usaha yang berdaya saing tinggi.
Dalam diskusi juga dijelaskan mengenai penguatan skema RIIM Startup
BRIDA, yaitu program yang memberikan peran lebih besar kepada BRIDA dalam
mengidentifikasi, mendampingi, membina, dan merekomendasikan startup berbasis
riset dari daerah. Melalui skema ini, BRIDA menjadi ujung tombak dalam
menjaring inovator dan pelaku usaha daerah yang berpotensi mengembangkan hasil
riset menjadi produk komersial.
Selain membahas peluang pendanaan, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai persyaratan pengusulan, tahapan seleksi, penyusunan proposal bisnis, penyusunan Business Model Canvas (BMC), penyusunan rencana anggaran biaya, hingga strategi hilirisasi dan komersialisasi produk inovasi. Startup yang lolos seleksi berkesempatan memperoleh pendanaan hingga Rp300 juta per tahun dengan masa pendanaan maksimal dua tahun.
Melalui
kegiatan monitoring dan sosialisasi ini, BRIN bersama BRIDA Kabupaten Buleleng
berharap dapat memperkuat ekosistem inovasi daerah, memperluas pemanfaatan
hasil riset, meningkatkan kapasitas UMKM berbasis teknologi, serta mendorong
lahirnya lebih banyak startup inovatif yang mampu menjadi penggerak pertumbuhan
ekonomi daerah. Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum penting untuk
memperkuat kolaborasi antara BRIN, BRIDA, pemerintah daerah, perguruan tinggi,
dan pelaku usaha dalam mewujudkan Buleleng sebagai daerah yang semakin maju
melalui riset, inovasi, dan kewirausahaan berbasis teknologi. #Wck