Buleleng – Riset dan inovasi menjadi salah satu fondasi penting dalam mendukung pembangunan daerah yang berbasis pada kebutuhan dan permasalahan nyata di masyarakat. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi terus diperkuat, termasuk dalam memastikan dukungan pendanaan dapat berjalan sejalan dengan rencana penelitian.
Hal tersebut dibahas dalam Rapat
Sinkronisasi Pendanaan Riset Kolaborasi Tahun 2026 antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab)
Buleleng dan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Kamis (24/9),
di Ruang Rapat Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kabupaten Buleleng.
Kegiatan dipimpin oleh Kepala Brida
Buleleng, Ketut Suwarmawan, S.STP., M.M., didampingi Dekan Fakultas Ilmu
Pendidikan Undiksha, Prof. Dr. I Wayan Widiana, S.Pd., M.Pd. Pertemuan diikuti
tim peneliti Undiksha bersama sejumlah perangkat daerah yang menjadi pengampu
riset kolaborasi.
Kepala Brida, Ketut Suwarmawan
mengatakan pertemuan ini menjadi bagian penting untuk memastikan pendanaan yang
telah tersedia pada masing-masing perangkat daerah dapat disinkronkan dengan
kebutuhan dan rencana pelaksanaan riset. Selain itu, ia juga menyampaikan tim
peneliti Undiksha telah berhasil mendapatkan dukungan pendanaan dari pemerintah
pusat untuk sejumlah kegiatan penelitian yang memiliki keterkaitan dengan
kebutuhan pembangunan di Kabupaten Buleleng. Dukungan Pemerintah Kabupaten
Buleleng diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan riset tersebut agar hasilnya
dapat memberikan manfaat lebih luas.
“Hari ini kita memastikan kembali
anggaran yang sudah masuk ke masing-masing OPD pengampu. Kalau masih ada yang
belum sinkron, ada yang perlu ditambahkan atau dikurangi, di sinilah kita
berdiskusi”, jelasnya.
Menurutnya, sinkronisasi juga diperlukan
agar pelaksanaan kegiatan dapat berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Terlebih, waktu pelaksanaan tahun anggaran 2026 semakin terbatas sehingga
setiap dukungan pendanaan perlu dipastikan dapat dieksekusi secara tepat. Harapannya,
kolaborasi antara Pemkab Buleleng dan Undiksha tidak berhenti pada pelaksanaan
riset tahun 2026. Ke depan, pengembangan riset diharapkan dapat terus diarahkan
dengan mengacu pada peta jalan riset yang telah disusun Brida Buleleng untuk mendukung perencanaan pembangunan
hingga tahun 2029.
“Harapannya kerja sama ini tidak
berhenti sampai di sini. Jika ke depan ada usulan pendanaan riset, kami
berharap dapat mempertimbangkan peta jalan yang sudah disusun BRIDA, sehingga
riset yang dikembangkan memiliki arah dan kesinambungan”, ujar Suwarmawan.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu
Pendidikan Undiksha, Prof. I Wayan Widiana menyampaikan apresiasi atas dukungan
dan kesungguhan Pemerintah Kabupaten Buleleng dalam mendukung ide serta pemikiran
para peneliti Undiksha. Menurutnya, dukungan tersebut menjadi langkah awal
untuk memperkuat kerja sama riset pada masa mendatang, terutama riset yang
memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat Buleleng.
Pada tahun 2026, terdapat 11 riset
kolaborasi yang dibahas dalam sinkronisasi tersebut. Riset-riset tersebut
mencakup bidang pendidikan, kesehatan, inklusi, lingkungan, pertanian,
kebudayaan hingga pariwisata. Sebelas riset kolaborasi tersebut meliputi;
1)
Brainy Reads,
optimalisasi model intervensi klinis untuk penguatan reading fluency, literasi
numerasi, dan self-awareness siswa SMP dengan keterlambatan membaca di
Buleleng, yang diampu oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten
Buleleng;
2)
L-Compass,
hilirisasi model pembelajaran berbasis Graph-Informed Symbol-Language Mapping
untuk penguatan expressive speaking dan metalinguistic awareness siswa SD, yang
diampu oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng;
3)
Smart
SafeBirth-EMTCT, layanan antenatal berbasis self-assessment dengan pendekatan
Calm Think Act Tool untuk mendukung triple eliminasi, yang diampu oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten Buleleng;
4)
Virtual Math,
Smart Inclusive Math Learning Ecosystem berbasis adaptive gamification mobile
technology bagi siswa tunarungu-wicara, yang diampu oleh Dinas Pendidikan
Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng;
5)
SociaLearn,
sistem pembelajaran berbasis siklus reflektif-aksi sosial untuk pemulihan
learning loss pascapandemi melalui penguatan growth awareness dan problem
analysis skills, yang diampu oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga
Kabupaten Buleleng;
6)
Joyful-School
Tracker, sistem deteksi dini teacher burnout dan iklim kelas menggunakan
self-diagnostic tool untuk mendukung sekolah ramah anak, yang diampu oleh Dinas
Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng;
7)
Living Lab
Aksara Bali Inklusif Berbasis Iterasi, melalui kokreasi relief taktil dan model
ekosistem literasi tunanetra untuk menguatkan partisipasi sosial serta
transformasi ekonomi kreatif desa, yang diampu oleh Dinas Sosial Kabupaten
Buleleng;
8)
Co-Creation
Living Lab Berbasis Etnosains, optimalisasi teknik budidaya anggur dan inovasi
pascapanen untuk peningkatan nilai ekonomi petani Desa Banjar, yang diampu oleh
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng;
9)
Living Lab
Desa Adat Panji, transformasi pengelolaan sampah menuju desa berkelanjutan
melalui inovasi sirkular dan inovasi saintek, yang diampu oleh Dinas Lingkungan
Hidup Kabupaten Buleleng;
10)
AI Emotion
Analytics dalam Living Lab Sekolah, model deteksi dini stres belajar untuk
mengurangi risiko psikososial dan menurunkan biaya intervensi pendidikan, yang
diampu oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng;
11)
Smart Ethno
Edutourism, optimalisasi tata kelola perkampungan kuno di Desa Julah sebagai
kawasan wisata berbasis Tri Mandala dan teknologi, yang diampu oleh Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng.
Lebih lanjut, Prof. Widiana juga
menyampaikan bahwa Undiksha berencana melaksanakan pameran hasil riset pada 24
Oktober 2026. Kegiatan tersebut direncanakan menjadi ruang untuk memperkenalkan
berbagai hasil penelitian kepada masyarakat dan pemangku kepentingan, termasuk
hasil riset yang memiliki keterkaitan dengan pembangunan Buleleng.
Menurutnya, Undiksha saat ini tidak
hanya memiliki 11 tim riset yang berkolaborasi dengan pemerintah daerah, tetapi
juga puluhan tim penelitian lainnya. Hasil-hasil riset tersebut diharapkan
dapat terus didorong menuju tahap hilirisasi dan pemanfaatan sehingga
memberikan dampak bagi masyarakat.
“Kami berharap hasil riset-riset yang
telah dilaksanakan bersama BRIDA dapat dipamerkan bersama di Undiksha, sehingga
hasil penelitian tersebut dapat diketahui dan dimanfaatkan lebih luas”,
ungkapnya.
Usai pemaparan, kegiatan dilanjutkan
dengan diskusi dan sinkronisasi pendanaan antara tim peneliti Fakultas Ilmu
Pendidikan Undiksha dengan perangkat daerah pengampu. Sejumlah perangkat daerah
yang hadir antara lain Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng,
Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng,
Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Buleleng,
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng, serta Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng.
Melalui forum ini, Pemkab Buleleng dan
Undiksha memperkuat komitmen untuk membangun ekosistem riset dan inovasi yang
lebih terarah. Sinkronisasi pendanaan menjadi salah satu langkah untuk
memastikan riset tidak berhenti sebagai hasil penelitian, tetapi dapat
ditindaklanjuti menjadi solusi dan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi
masyarakat serta mendukung pembangunan Kabupaten Buleleng berbasis riset dan
inovasi. #Sck