Perwakilan Lomba Kreasi Inovasi 2026 Banjar dan Busungbiu
Admin brida | 24 Juli 2026 | 287 kali
Tim Juri Lomba Kreasi Inovasi Perangkat Daerah dan Masyarakat Kabupaten Buleleng Tahun 2026, kembali melaksanakan verifikasi terhadap inovasi masyarakat yang masuk dalam jajaran nominasi terbaik, Kamis (23/7). Kegiatan ini merupakan tahapan penting untuk memastikan kesesuaian antara proposal yang diajukan dengan implementasi nyata di lapangan.
Penilaian difokuskan pada sejumlah aspek strategis, meliputi tingkat kebaruan inovasi, manfaat yang dirasakan masyarakat, potensi untuk direplikasi di wilayah lain, kemudahan adopsi teknologi, serta keberlanjutan inovasi dalam jangka panjang. Secara umum, mayoritas inovasi yang diverifikasi terbukti berjalan secara aktif dan mampu memberikan dampak positif, baik dalam meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat maupun mendorong pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal.
Tim Juri juga menekankan pentingnya penguatan sistem digital serta dukungan regulasi dan pembiayaan agar inovasi dapat terus berkembang secara berkelanjutan. Hasil penilaian verifikasi ini selanjutnya akan diakumulasikan dengan nilai substansi administrasi sebagai dasar penentuan tiga inovasi terbaik pada masing-masing kategori.
Adapun tiga inovasi masyarakat yang diverifikasi, yaitu Inovasi Madu Bali Aga di Desa Banyuseri, Kecamatan Banjar. Inovasi Madu Bali Aga memperoleh apresiasi tinggi pada aspek kebermanfaatan ekonomi dan potensi replikasi berbasis masyarakat. Kelompok tani telah menunjukkan konsistensi dalam pengelolaan usaha sejak tahun 2017 melalui tata kelola kelompok yang aktif dan berkelanjutan.
Ke depan, kelompok ini juga tengah mengembangkan konsep wisata petik buah sebagai upaya memperkaya sumber nektar alami bagi lebah sekaligus menghadirkan daya tarik wisata baru yang mampu meningkatkan nilai ekonomi masyarakat desa.
Selanjutnya inovasi PAUD Merakyat di Desa Gesing, Kecamatan Busungbiu. PAUD Merakyat dinilai memiliki dampak sosial yang sangat kuat serta berpotensi menjadi model bagi desa-desa lain yang menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan pendidikan anak usia dini.
Tim Juri menilai keberlanjutan program ini memerlukan dukungan berkelanjutan melalui alokasi APBDes, khususnya untuk pemeliharaan fasilitas dan insentif tenaga pendidik. Selain itu, pendampingan dari Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Buleleng juga dinilai penting untuk meningkatkan kompetensi tutor melalui pelatihan maupun sertifikasi berkala.
Pengelola juga didorong untuk mengembangkan Alat Permainan Edukatif (APE) secara mandiri dengan memanfaatkan bahan daur ulang maupun material alam yang tersedia di lingkungan desa, sebagai bentuk penguatan inovasi.
Terakhir, inovasi Google Sites Sabha Lango di Desa Adat Kedis, Kecamatan Busungbiu. Inovasi digital Sabha Lango memperoleh nilai unggul pada aspek efisiensi biaya dan kemudahan penerapan teknologi. Melalui pemanfaatan platform Google Sites, Desa Adat Kedis berhasil membangun sistem administrasi digital yang transparan, mudah diakses, serta tidak membebani anggaran desa.
Platform tersebut menjadi pusat arsip elektronik yang memuat berbagai dokumen penting, mulai dari struktur kepengurusan Sabha Lango, jadwal kegiatan adat dan keagamaan, hingga digitalisasi awig-awig serta pararem desa adat.
Tim Juri juga memberikan catatan agar pengelolaan data yang terintegrasi dengan Google Sheets dilengkapi pengaturan hak akses (sharing permission) secara ketat guna menjaga keamanan dan kerahasiaan data krama desa.
Melalui tahapan verifikasi, Pemerintah Kabupaten Buleleng berharap inovasi-inovasi masyarakat tidak hanya menjadi peserta lomba, tetapi mampu terus berkembang sebagai solusi nyata bagi pembangunan daerah serta menjadi inspirasi bagi desa-desa lain dalam menciptakan inovasi yang berdampak, berkelanjutan, dan berdaya saing. #Wck