Dalam upaya nyata mendukung Program Prioritas Pembangunan Bali tahun 2025-2030, khususnya percepatan program Kemandirian Energi Listrik Bali Berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) serta kontribusi konkret terhadap target Net Zero Emission (NZE) Bali 2045, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali bekerja sama dengan Institute for Essential Services Reform (IESR) menyelenggarakan talkshow strategis.
Mengangkat tema “Potensi dan Tantangan Bali Mandiri Energi berbasis EBT
2026: Sinkronisasi Regulasi dan Update Teknologi EBT Menuju NZE Bali 2045”,
kegiatan ini dirangkai bersamaan dengan gelaran prestisius Indonesia Solar Summit
2026, Rabu (15/7) di The Meru Sanur
Hotel, Denpasar Selatan, Bali.
Tujuan utama diadakannya talkshow strategis tersebut adalah untuk
mendukung Program Prioritas Pembangunan Bali tahun 2025-2030, khususnya dalam
akselerasi kemandirian energi, sinkronisasi regulasi dan teknologi, pencapaian
Net Zero Emission, serta penguatan citra pariwisata di Bali.
Acara ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan kunci dari unsur
birokrasi, akademisi, praktisi, dan NGO. Hadir dalam daftar undangan di
antaranya perwakilan dari Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Bali dan Nusa
Tenggara, Bappeda Provinsi Bali, Dinas Kehutanan dan LH, Dinas Tenaga Kerja dan
ESDM, Dinas Perhubungan, perwakilan Brida Kabupaten/Kota sebali termasuk Brida
Kabupaten Buleleng yang diwakili oleh Analis Kebijakan Ahli Muda, Ketut
Arsudipta, S.E., akademisi Universitas Udayana dan Universitas Pendidikan
Nasional, jajaran direksi Perumda Kerta Bali Saguna, General Manager PT PLN
(Persero) UID Bali, hingga Direktur IESR.
Narasumber pertama, Dr. Ajrun Karim M.MT, membedah kondisi riil
kelistrikan Bali yang saat ini masih memiliki ketergantungan tinggi pada
pasokan kabel laut Jawa-Bali serta pembangkit lokal berbahan bakar fosil. Untuk
memutus rantai emisi tersebut, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL)
PT PLN (Persero) periode 2025–2034 telah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit
di Bali sebesar 2,74 GW.
Porsi EBT didorong secara masif dengan penambahan kapasitas PLTS sebesar 679,4 MW. Skema pembangunannya dirancang dalam dua fase: fokus penyediaan sistem pada lima tahun pertama, dan dilanjutkan dengan nol pembangkit fosil (0 MW) pada lima tahun kedua (2030–2034) yang sepenuhnya didedikasikan bagi energi bersih dan kapasitas penyimpanan (storage).
Upaya transisi ini telah didukung oleh sejumlah regulasi krusial seperti Perpres
Nomor 112 Tahun 2022 tentang percepatan EBT, Perpres Nomor 109/2025 mengenai
PLT Sampah, hingga ketentuan terbaru PJBTL dalam Permen ESDM No. 05/2025.
Kendati demikian, Ajrun menggarisbawahi tantangan lapangan yang tidak mudah,
mulai dari tingginya harga lahan di Bali untuk pembangunan PLTS ground-mounted,
tantangan perizinan integrasi kabel daya seperti pada proyek PLTSa Suwung (30
MW), hingga aspek kearifan lokal. Implementasi teknologi bersih di Bali
ditegaskan harus senantiasa menyelaraskan diri dengan filosofi Tri Hita Karana
melalui pelibatan aktif dan dialog inklusif bersama desa adat.
Narasumber kedua, I Gede Putu Udiana Putra, ST., MT, mempresentasikan
hasil kolaborasi riset mutakhir antara BRIDA Provinsi Bali dan Badan Riset dan
Inovasi Nasional (BRIN) mengenai potensi teknologi Ocean Thermal Energy
Conversion (OTEC) atau Pembangkit Listrik Tenaga Panas Laut (PLTPL).
Selaras dengan visi pembangunan "Nangun Sat Kerthi Loka Bali",
teknologi OTEC dinilai sebagai solusi brilian karena mampu menghasilkan listrik
bersih yang stabil secara terus-menerus selama 24 jam (firm/baseload power)
dengan faktor kapasitas di atas 90%. Berdasarkan data termal historis, kawasan
perairan Bali Utara khususnya Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Kabupaten
Buleleng dipilih sebagai lokasi proyek percontohan (pilot project) untuk
pembangunan OTEC tipe Onshore (di darat).
Dalam sesi diskusi, terungkap bahwa pemilihan Desa Bungkulan didasarkan
pada keunggulan geografis yang sangat unik, yaitu a) selisih suhu yang Ideal;
b) Batimetri Pantai yang Curam: Karakteristik palung laut dalam yang dekat
dengan garis pantai memotong drastis panjang kebutuhan Cold Water Pipe (pipa
air dingin), sehingga menekan biaya investasi awal (CAPEX) secara signifikan;
dan c) kondisi gelombang yang tenang karakteristik Laut Bali Utara yang teduh
mempermudah instalasi dan menjamin keamanan infrastruktur operasional jangka
panjang.
Menariknya, proyek OTEC ini dirancang sebagai ekosistem sirkular ekonomi
terintegrasi yang menghasilkan produk sampingan bernilai tinggi (Deep Ocean
Water Application), media budidaya laut tinggi nutrisi bebas patogen untuk
nelayan, serta penyediaan sistem pendingin udara ruangan dan fasilitas cold
storage penyimpanan ikan. Setelah melalui tahap detail desain (FEED dan DED)
pada 2024–2025, proyek percontohan di Bungkulan ini ditargetkan memasuki tahap
konstruksi fisik pada akhir tahun 2026.
Narasumber ketiga, Cita Febronia Utami selaku Head of Bali Net Zero
Project IESR, memaparkan lima aspek tantangan utama yang dihadapi Bali untuk
mencapai target emisi nol bersih pada tahun 2045, yakni aspek regulasi,
investasi, kesiapan teknologi, SDM, serta sosial-budaya setempat.
Cita menjelaskan pentingnya ekosistem kolaborasi multi-aktor yang
melibatkan pemerintah, BUMN (PLN), sektor swasta, akademisi/NGO, hingga media
dan masyarakat. IESR mendorong implementasi Peta Jalan (Roadmap) Bali NZE
secara bertahap mulai dari Fase Awal (2025–2029) yang berfokus pada harmonisasi
kebijakan serta optimalisasi PLTS Atap, hingga fase konsolidasi akhir pada
2045.
Sebagai studi kasus kesuksesan, ia membagikan strategi Kota Chemnitz di
Jerman yang sukses memprioritaskan potensi energi surya secara presisi.
Memasuki pertengahan tahun 2026, IESR sendiri telah merampungkan serangkaian
agenda krusial di Bali, termasuk menyusun program jangka pendek seperti survei
pencarian lahan PLTS Ground Mounted sebesar 1.400 MWp, kemitraan dengan PHRI
Bali untuk sektor perhotelan, hingga rencana jangka panjang feasibility study
Peta Jalan Nusa Penida 100% Energi Terbarukan pada tahun 2027.
Melalui sinergi riset yang kuat oleh BRIDA, kebijakan progresif dari pemerintah, dukungan teknis PLN, serta pendampingan dari IESR, kegiatan talkshow ini menegaskan bahwa Bali tidak hanya siap menyongsong kemandirian energi bersih, tetapi juga berpotensi besar menjadi pelopor pemanfaatan teknologi energi laut (OTEC) di kancah global. Momentum ini diharapkan mampu memperkuat image baru pariwisata Bali di mata dunia sebagai destinasi pariwisata hijau berkelanjutan berkelas dunia.
Usai
pemaparan materi dari ketiga narasumber, agenda kegiatan dilanjutkan dengan
sesi diskusi interaktif dan tanya jawab bersama para undangan. Brida Provinsi
Bali dan IESR berharap seluruh rekomendasi taktis yang dihasilkan dapat segera
diintegrasikan ke dalam kebijakan daerah guna mengakselerasi terwujudnya Bali
Mandiri Energi berbasis energi bersih. #Adt